Kaligrafi Merubah Hidup

  Kaligrafi yang Mengubah Hidup Saya

Ketika saya masih duduk di kelas 9 SMP, saya mengikuti lomba lukis kaligrafi yang diadakan oleh salah satu lembaga pondok pesantren di Bojonegoro. Lomba ini menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya, bukan hanya karena prestasi yang saya raih, tetapi juga karena pelajaran hidup yang saya dapatkan.

Lomba tersebut terdiri dari dua tahap seleksi. Tahap pertama dilakukan secara online melalui Google Zoom, di mana setiap peserta diminta melukis langsung di depan kamera. Sementara itu, tahap kedua adalah babak final yang diadakan secara langsung di pondok pesantren tersebut. Awalnya, saya merasa cukup percaya diri karena melukis adalah sesuatu yang sangat saya cintai dan saya kuasai. Namun, sebuah komentar dari salah seorang peserta lain sempat mengusik saya.

Saat mengikuti tahap pertama, seseorang meremehkan saya hanya karena saya belum berhijab. "Apa mungkin kamu menang di lomba ini kalau kamu saja tidak berhijab?" katanya dengan nada merendahkan. Mendengar itu, saya sempat merasa sedih, tetapi saya memutuskan untuk tidak menghiraukannya. Saya tahu tujuan saya adalah menunjukkan kemampuan saya, bukan mendengarkan pendapat orang lain. Saya tetap fokus dan menyelesaikan karya saya dengan sungguh-sungguh.

Ketika pengumuman tahap pertama diumumkan, saya merasa sangat bahagia karena saya dinyatakan lolos ke tahap kedua. Babak final ini diadakan di pondok pesantren, dan saya kembali menghadapi tantangan. Saat tiba di sana, saya masih belum memakai hijab, karena memang itu bukan kebiasaan saya. Meskipun begitu, saya tetap melaksanakan lomba dengan sepenuh hati.

Namun, di tengah perlombaan, salah seorang ustadzah di lembaga tersebut mendekati saya dan dengan lembut memberi tahu bahwa semua peserta diharapkan memakai hijab selama berada di lingkungan pondok pesantren. Awalnya, saya merasa terpaksa. Rasanya aneh bagi saya memakai hijab, dan saya khawatir akan merasa panas dan tidak nyaman. Tetapi saya memahami bahwa saya harus menghormati aturan tempat itu, jadi saya mengikuti arahan tersebut.

Keesokan harinya, saat pengumuman juara tiba, perasaan gugup bercampur harapan memenuhi hati saya. Ketika nama saya diumumkan sebagai juara 1, saya hampir tidak percaya. Semua usaha, kesabaran, dan fokus yang saya curahkan ternyata membuahkan hasil. Saya merasa sangat bangga, tetapi ada sesuatu yang lebih besar yang saya rasakan pada saat itu pemahaman baru tentang arti menghormati dan belajar dari pengalaman.

Sejak hari itu, saya mulai memandang hijab dengan cara yang berbeda. Awalnya, saya pikir hijab akan membuat saya merasa panas atau tidak nyaman, tetapi ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Saya perlahan mulai mengenakannya dengan sukarela, bukan karena terpaksa. Lomba ini tidak hanya memberi saya penghargaan, tetapi juga memberikan perubahan yang sangat berarti dalam hidup saya.

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk tidak menyerah pada hinaan, tetap fokus pada tujuan, dan terbuka terhadap perubahan. Kadang, pengalaman yang terlihat sederhana bisa memberikan dampak besar dan mengubah cara kita melihat dunia. Saya akan selalu mengenang lomba ini sebagai momen di mana saya tidak hanya belajar menjadi pelukis yang lebih baik, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih menghormati aturan, orang lain, dan diri sendiri.


Posting Komentar

0 Komentar